Raker Trans TV/Trans 7, tahun 2007 sudah berakhir. Targetnya audience share 18, untuk Trans TV dan 11 untuk Trans 7. Kalau sinergi berjalan dengan sempurna kelak, Trans Corp. akan menguasai Audience Share 29, kombinasi keduanya. Berarti 29% dari jumlah penonton Indonesia menonton Trans Corp. Kalau dilihat pada segmen AB Trans Corp. kemungkinan menguasai 36%. Itu berarti cluster kelompok eksekutif, cendekiawan pengusaha karyawan menengah atas yang mempunyai akses ke berbagai media, koran, radio, internet, SMS dan berbagai jalur institusi politik yang menentukan warna dan arah perjalanan politik, ekonomi dan sosial Indonesia. Trans Corp. jadinya telah menjadi sebuah sub - pusat kekuasaan yang harus diperhitungkan.
Dalam pertemuan terbatas Presiden, Wakil Presiden, Menteri dan Kapolri di Istana Negara minggu lalu – terkemuka wacana hubungan media dan pemerintah. Selama ini SBY melihat bahwa media kurang memberikan support kepadanya dan pemerintahan sekarang. Padahal dia benar benar memerlukan dukungan itu. Yang disiarkan sebagian besar adalah bad news. Padahal tidak semua langkah yang dilakukan masuk dalam kategori itu. Banyak berita baik tidak pernah mendapat porsi yang cukup di media khususnya televisi.
Setelah itu, dalam diskusi yang berlangsung terlontar lemahnya semangat berkomunikasi antara pemerintah dan media. Pemerintah dianggap tidak memahami posisi media setelah reformasi, selaku bagian dari demokrasi. Meskipun para pemimpin media memuji SBY yang tetap komit terhadap demokrasi nyatanya justru perangkat demokrasi berupa media itu luput dari perhatian.
Media kata De Fleur (1985), adalah perangkat demokrasi yang paling penting. Mengapa?. Karena media merupakan institusi independent yang melaksanakan social control secara bebas dan tidak memihak. Dalam kesempatan bertemu dengan Meneg Infokom saya mengatakan Media merupakan perangkat yang paling demokratis. Kalau institusi demokrasi: eksekutif, legislatif dan yudikatif dipilih lima tahun sekali, media dipilih jauh lebih singkat waktunya. Majalah dipilih seminggu sekali. Koran dipilih setiap hari – karena pembaca akan membeli koran yang dirasanya menarik untuk dibaca pada hari itu. Sedangkan radio dan televisi dipilih jauh lebih singkat. Pendengar dan penonton akan memindahkan saluran pilihannya 30 detik setelah dirasa bahwa acara atau berita yang ditayangkan tidak memenuhi keinginan mereka. Karena itu orang orang media mempunyai tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi. Dan karena persaingan demikian ketat – akan melakukan pekerjaan jauh lebih keras dari pada institusi manapun. Tidak ada istilah hari libur untuk orang media. Bahkan apabila terjadi breaking news – mereka berjaga 24 jam untuk melaporkan setiap menit perkembangan yang terjadi. Tatkala pesawat AdamAir jatuh dan kapal Ferry Senopati Nusantara tenggelam – seluruh jajaran crew pemberitaan di pusat berita siaga 24 jam mengikuti perkembangan dan mengejar nara sumber. Mereka bahkan mengikuti perjalanan pesawat pengintai, kapal penolong atau regu pencari kecelakaan sampai ke tengah laut yang dalam atau hutan pegunungan yang tinggi. Menteri perhubungan dan stafnya memantau perkembangan dari Jakarta. Pekerja media memantau sampai kepelosok, mencari sumber berita, dugaan, perkiraan maupun mencari referensi dan berselancar di internet dan portal portal berita seluruh dunia.
Orang media juga mempunyai etos kerja yang sangat tinggi. Berbeda dengan karyawan institusi atau perusahaan lain, media bekerja di empat tataran dimensi sekaligus. Dimensi Perencanaan – dalam dimensi ini paling penting adalah peta persaingan di media. Dari minggu ke minggu (majalah), hari demi hari (koran) bahkan dari menit ke menit (radio dan televisi). Analisa dilakukan berdasarkan hasil riset kuantitatif AGB Nielsen maupun riset kwalitatif FGD (focus group discussion).
Dimensi kedua proses produksi perubahan penetapan agenda media, proses creative produksi sampai pasca produksi baik di pusat maupun dari koresponden di daerah.[1]
Dimensi ketiga adalah sales and marketing, penjualan majalah/koran maupun space iklan di media cetak, radio dan TV.
Dimensi ke-empat: promotion di media cetak, radio dan televisi serta berbagai program off air berbagai kegiatan untuk menarik khalayak yang lebih banyak. Tidak banyak bisnis yang melakukan hal seperti ini secara sekaligus.[2]
Orang media tidak pernah berhenti mencari sesuatu yang baru. Pakar komunikasi Wilbur Schramm menulis media adalah pemantau lingkungan yang handal. Media melakukan pengawasan lingkungan sosial, ekonomi dan politik jauh lebih intense katimbang anggauta DPR, DPRD, KPK, Tipikor, Kepolisian, Kejaksaaan maupun institusi pengawasan lain. Terbongkarnya berbagai kasus besar maupun kasus kecil itu karena sistim surveillance media sudah demikian canggih. Media mengikutkan sertakan secara aktif berbagai sumber dari manapun berasal. Beda yang paling mendasar dibanding institusi pengawasan yang ada: kejaksaan, kepolisian dan perangkat pemerintah lainnya di gaji dan didanai pemerintah – media didukung dananya oleh khalayak pembaca, pendengar maupun televisi sendiri. Karena itu media bertanggung jawab untuk mengangkat masaalah yang dianggap penting didalam dan disekitar masyarakat, dan berusaha keras untuk tidak ada kasus yang luput diberitakan.
Kasus bakso tikus, formalin, air kemasan palsu, minyak palsu penyelundupan BBM, illegal logging, narkoba, korupsi, ijazah palsu hingga kekerasan oleh aparat maupun kekerasan dalam rumah tangga adalah materi yang harus diungkap. Dalam istilah media – kejahatan harus diungkap. Bahwa untuk itu amat besar resikonya – sudah bukan rahasia umum. Di tahun 2006 saja ada 89 wartawan yang tewas. Selama kurun waktu lima tahun (2002-2006) ada 350 wartawan tewas atau dibunuh dalam berbagai konflik. Bagian terbesar di Timur Tengah. Puluhan wartawan dipenjara atau diculik oleh kelompok fundamentalis, pemerintah yang otoriter atau jaring jaring mafia narkoba.
Dengan fakta seperti itu elit politik di era Demokrasi sekarang ini mestinya memahami bahwa media adalah partner bukan musuh karena media hanya menyajikan fakta dan mengungkapkan peristiwa apa adanya. Di Indonesia tidak ada media partisan – media yang dimiliki oleh partai/kelompok golongan tertentu.
Kalaupun ada jumlahnya hanya sedikit dan tidak mempunyai pengaruh yang significant. Karena media umumnya mempunyai ideology kebangsaan yang kuat. Artinya ia berorientasi pada kepentingan rakyat dalam wadah kesatuan Republik Indonesia. Kalau ada media yang secara gencar menginginkan pergantian pemerintahan sebelum masa pemilihan berakhir, ia pasti akan dimusuhi pembacanya.
Tidak ada satupun media yang berniat memprovokasi kudeta. Sebaliknya karena media adalah panggung, institusi demokrasi: eksekutif, legislatif dan yudikatif semestinya memanfaatkan media. Tidak mengambil jarak apalagi memusuhinya. Apa yang dinyatakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Menado, minggu 14 Januari 2007 yang mengkritisi kelompok politik khususnya mantan Presiden Megawati dan Mantan Wakil Presiden Try Sutrisno yang terus menerus melontarkan kinerja buruk pemerintahannya merupakan langkah baik meskipun terlambat.
Pernyataan SBY itu mendapat tempat di halaman satu di berbagai media cetak dan ulasan di berbagai media elektronik. Itulah yang harus dilakukan tanpa harus mengharapkan media yang secara sepihak membela kebijaksanaan apapun yang dilakukan pemerintah. Pemerintah dan lembaga demokrasi lainnya mempunyai masa lima tahun bekerja. Kalau kinerjanya baik secara keseluruhan dan bisa menghasilkan produk-produk yang sesuai dengan janji-janjinya ketika kampanye pemilihan yang lalu, rapor bagus nya akan terus terbawa sehingga mereka bisa dipilih lagi dimasa lima tahun mendatang.
Sebaliknya kalau track record nya buruk sampai masa jabatannya berakhir jangan harap media akan mendukung pada pemilihan selanjutnya tahun 2009.
Inilah indahnya demokrasi.
Jakarta, 15 Januari 2007
Ishadi S.K.
[1] Trans TV dan Trans 7 mempunyai 80 koresponden diberbagai daerah dan kota di Indonesia. Metro TV sebagai stasiun televisi berita lebih banyak.
[2] Tidak heran kalau media menjadi sasaran orang muda yang mulai ingin bekerja. Ketika Trans TV dan Trans 7 ingin merekrut karyawan baru, tidak kurang dari 100,000 orang yang melamar untuk memperebutkan tempat yang amat terbatas.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






0 comments:
Post a Comment