Monday, February 12, 2007

3.Wollongong

Wollongong adalah sebuah kota kecil diselatan Sydney Australia. Wollongong dalam bahasa penduduk asli Australia – Aborigin, artinya “the sound of the sea”. Ada yang mengatakan kata itu berasal dari “Nywoolyarngungh” – duh susah membacanya – artinya “see The Monster Comes”. Entah siapa yang dimaksud dengan “monster” itu. Apakah mahluk laut, atau mungkin juga kapal2 Eropah yang pada awal abad sembilan belas mendatangi benua itu sambil membawa para nara pidana yang diharuskan bekerja paksa membangun pemukiman. Australia memang adalah wilayah yang dimaksudkan sebagai tempat pembuangan para nara pidana Inggris untuk menghindarkan mereka menimbulkan kesulitan dinegara itu. Ratusan ribu narapidana di tempatkan diberbagai wilayah Benua ini termasuk Wollongong. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya tatkala ditemukan batubara dan bijih besi hingga kini di Wollongong – puluhan ribu imigran Inggris dan Eropah berbondong kedaerah ini dan membangun pabrik pengolahan biji besi yang sebagian diantaranya masih aktif berproduksi.

Kota Wollongong sendiri dibangun pada tahun 1834 diatas tanah Charles Throsby Smith yang tiba di Sydney pada tahun 1816. Ia kemudian menguasai 300 acre tanah yang kemudian menjadi cikal bakal kota Wollongong. Kota ini pernah diserang oleh Armada Perang Kerajaan Prusia pada 1834. Sebagian peninggalan benteng yang dibuat untuk menahan serangan Armada Prusia yang dipelihara dengan apik di salah satu ujung kota. Wollongong menghadap laut Pacific – dengan ombak yang besar dan sangat bagus untuk berselancar.

Di kota tua nan cantik berpenduduk 30,000 orang ini lah, minggu lalu saya diundang oleh Wollongong University. Prof. Philip Kitley yang pada tahun 1990 mewancarai saya – saat itu saya Direktur TVRI – untuk menyelesaikan penelitian tentang televisi dan budaya Indonesia untuk disertasi doktornya mengundang saya. untuk berdiskusi di kampusnya dengan judul “Tiga Tahun Komisi Penyiaran Indonesia”. Selain saya, dia mengundang tokoh-tokoh KPI Ade Armando, Bimo Nugroho, Ketua KPID Sumatera Utara Aria Mahendra Sinulingga, Ali Murtadlo Pimpinan JTV Surabaya, Agus Sudibyo LSM dan Pengamat UU Siaran, serta Hinca IP Panjaitan. Prof Kitley juga mengundang Faridah Iskandar Sastrawidjaja, Ketua KPI Malaysia. Edwin Jurriens dari University of New South Wales dan Lyn Maddock, The Australian Communication and Media Authority (ACMA). Universitas Wollongong yang mensponsori acara ini merupakan cabang dari University of New South Wales –salah satu universitas terbesar di Australia. Diskusi selama 2.5 hari itu membahas mengenai tiga tahun KPI, sebab-sebab “kegagalan” dan masukan untuk KPI kedepan. Sudah dapat dibayangkan bahwa semua pembicara menuduh industri televisi sebagai biang kegagalan ini. Karena sejak awal televisi swasta sudah melakukan demo tatkala UU Penyiaran hendak disahkan oleh DPR.

Pihak KPI maupun KPID mengacu pada hak masyarakat Indonesia di daerah untuk memperoleh diversity of content maupun diversity of ownership dari media televisi dan berdalih hanya dengan televisi local secara ideology dan budaya televisi di Indonesia akan mendapat dukungan dari semua penonton diseluruh Indonesia dan pada akhirnya akan memperkuat kesatuan dan persatuan bangsa serta mempertahankan budaya dan kepribadian Indonesia. Mereka mengatakan : “sangat tidak adil jika penonton daerah dipaksa hanya menerima acara yang ditayangkan dari Jakarta yang sangat Jakarta centris. Hal ini bertentangan secara prinsip semangat otonomi dan demokrasi yang sejak Reformasi dikembangkan. Daerah akhirnya hanya menjadi koloni dari TV Pusat yang mengeruk keuntungan dari iklan dan dinikmati oleh pengusaha dan orang-orang Jakarta sementara kenikmatan itu adalah sumbangan dari penonton dari seluruh Indonesia”.

Satu-satunya yang membela industri adalah Farida – Ketua KPI Malaysia yang mengatakan bahwa “mereduksi kapasitas televisi nasional adalah kesalahan besar”. Kalau hal ini terjadi – berdasarkan pasal 17 UU Penyiaran No.32/2002 – yang mewajibkan lembaga Penyiaran Nasional hanya boleh mempunyai dua stasiun relay dan selebihnya membangun televisi lokal di setiap daerah bersama pengusaha daerah - televisi nasional akan segera gulung tikar.
Di sesi terakhir ketika saya memperoleh waktu berbicara, saya mengatakan bahwa “televisi adalah sebuah industri, sebuah bisnis yang mengacu pada dua hal :
1. Azas skala ekonomi, artinya televisi hanya berkembang di wilayah-wilayah yang mempunyai kekuatan ekonomi yang bisa menunjang kehidupan stasiun televisi yang bersangkutan.
2. Azas efisiensi, stasiun televisi harus bersandar dan akan berupaya maksimal pada prinsip efisiensi yaitu meningkatkan maksimum pendapatan dan mengurangi sebanyak mungkin biaya.

Televisi Nasional seperti sekarang juga bersandar pada efisiensi. Televisi jaringan seperti diamanatkan pada Pasal 17 UU Penyiaran No. 32/2002 akan membuat usaha ini menjadi sangat mahal dan tidak efisien. Biarlah televisi nasional dan televisi lokal berkembang sendiri-sendiri memenuhi kedua azas tersebut.

Dari 60 stasiun televisi lokal di seluruh Indonesia sekarang, tinggal 15 yang masih bertahan hidup. Dari 15 stasiun TV Lokal yang bertahan hanya Bali TV yang didukung oleh Bali Pos dan JTV yang didukung oleh Jawa Pos masih mandiri. Sisanya disokong oleh Pemerintah Daerah, Perusahaan (TV Bontang) atau lembaga Keagamaan (Pacific TV Menado). Sisanya gulung tikar rata-rata 6 bulan sesudah mengudara.

Ketika ekonomi tumbuh saya percaya televisi lokal juga akan berkembang. Peserta seminar tentu membantah pernyataan saya tetapi setelah saya memutar salah satu segmen “Pentas Lima” yang dirangkai dengan pembukaan tatkala karyawan Trans TV yang muda-muda beraksi di acara opening tune dilanjutkan dengan doa Yusuf Mansyur, Pidato saya dan lagu “Indonesia Pusaka” yang dinyayikan dengan baik sekali oleh Agnes Monica, peserta seminar terdiam, sebagian mengusap air mata.

Saya tutup sesi itu dengan pernyataan tidak semua pelaku bisnis itu ‘jelek’. Ada yang dikelola dengan baik dan menjadi asset nasional yang tidak hanya berkwalitas nasional namun juga kelas Dunia serta berambisi menjadi pelaku internasional - pelaku global. Tayangan Pentas Lima telah mematahkan argumentasi penentangan terhadap industri televisi di Wollongong yang hijau dan menyejukan itu.

Wollongong, 2 Februari 2007
Ishadi S.K.

0 comments:

 
Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger

© Newspaper Template Copyright by bacaan dari lantai sembilan | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks